Khairul Umam Berkelit, Mahasiswa Kecewa

Hasil pertemuan terkait kasus pelecehan seksual yang dilakukan Khairul Umam, perawat di Rumah Sakit Daerah (RSD) Pamekasan, kemarin (21/4) mengecewakan para korban dan mahasiswa. Antara pimpinan Akademi Keperawatan (Akper) dan direksi RSD lebih mementingkan hubungan kerjasama dan menganggap kasus yang menghebohkan ini sudah klir.

Pihak rumah sakit melalui Plt Direktur dr Mazhar dan Akper melalui Direktur Tumiatin menegaskan, kasus pencabulan itu telah tuntas. Sementara para korban dan perwakilan mahasiswa mengaku kecewa karena pelaku tidak mengakui perbuatannya dan dianggap selesai cukup dengan minta maaf.

Sekitar pukul 09.00, pertemuan tertutup digelar di aula RSD. Kapolsek Tlanakan AKP Bambang Soegiharto, Kasat Reskrim Polres AKP M. Kolil, dan Kasat Intel AKP Kuswartono ikut dalam pertemuan. Sekitar pukul 12.00 pertemuan selesai.

Pertemuan berlangsung alot dan menegangkan. Pada detik-detik akhir pertemuan, dari dalam ruangan terdengar suara gaduh seperti meja dan kursi didorong dan dibanting.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara histeris dari dalam ruangan yang terletak di lantai II rumah sakit milik Pemkab Pamekasan. Bukan hanya korban, mahasiswa akper yang ikut pertemuan terdengar menangis.

Setelah suasana terdengar tenang, pihak kepolisian dan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Hendro Santoso keluar dari ruangan. Disusul para korban dan perwakilan mahasiswa. Tidak ada satu pun yang wajahnya mendongak. Semuanya menunduk dengan mata sembab habis menangis.

Saat dimintai keterangan terkait suara gaduh dan tangisan mahasiswa, Hendro berkelit tidak tahu. "Mungkin lebih jelasnya langsung ke direksi (RSD). Saya di sini diundang. Kalau suara histeris itu, apa ya?" ujarnya tidak melanjutkan pembicaraan. "Masak terharu Pak," sergah salah satu wartawan.

Untuk memastikan sudah tidak ada perselisihan, Direktur Akper Tumiatin dan Plt Direktur RSD dr Mazhar menggelar keterangan pers. Intinya, mereka menyatakan kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan secara kekeluargaan. "Kita sudah bertemu dan semua telah klir," kata Mazhar.

Apakah pelaku mengakui perbuatannya? Mazhar tidak menjawab secara gamblang. Dia hanya menuturkan kedua belah pihak sepakat saling memaafkan dan menjadikan sebagai pelajaran ke depan. "Yang bersangkutan (Khairul Umam, Red) telah meminta maaf," tuturnya.

Sebagai shock therapy, jajaran direksi RSD "mengotak" perawat di sal C tersebut. "Kami telah memberikan sanksi. Pertama, tidak boleh berhubungan dengan mahasiswa magang, terutama soal bimbingan. Kedua, yang bersangkutan dipindah ke bagian manajemen. Artinya, bukan lagi perawat," tegasnya.

Tumiatin saat memberi penjelasan lebih memikirkan hubungan kedua lembaga yang sama-sama pelat merah tersebut. Dia beralasan, kedua belah pihak saling membutuhkan demi Pamekasan.

"Kami (mahasiswa akper) butuh bimbingan dengan magang di sini. Dan, kami telah menyepakati bahwa permasalahan selesai sampai di sini. Ke depan, kerjasama akper dan rumah sakit tetap seperti biasanya," tandasnya.

Terpisah, salah satu perwakilan mahasiswa merasa kecewa dengan sikap pelaku. Selain tidak menjelaskan kronologis ulahnya kepada korban-korbannya, Khairul enggan mengakui perbuatan cabulnya.

"Kami menangis bukan cengeng. Tapi, kami kecewa dengan dia (pelaku, Red). Masak hanya minta maaf, seolah-olah tidak melakukan apa-apa. Kami tetap tidak terima," tutur salah satu mahasiswa yang enggan menyebutkan inisialnya sambil sesenggukan.

Sayang, sejumlah wartawan yang menyanggong pelaku tidak berhasil mencegat Khairul Umam. Dia dikawal petugas RSD langsung nyelonong ke ruang direktur. Khairul duduk di kursi paling pojok sebelah timur. Hanya sebagian kepalanya terlihat dari celah pintu.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Pamekasan Khairul Kalam mengecam perbuatan oknum perawat tersebut. Selain telah mencoreng Pamekasan sebagai kota dengan ikon Gerakan Pembangunan Masyarakat Bernuansa Islami (Gerbang Salam), pelaku melecehkan anak didiknya.

"Ini perbuatan tidak terpuji. Mereka itu mahasiswa yang perlu dididik, bukan dilecehkan. Jika pembimbing sudah berbuat seperti itu, mau jadi apa Pamekasan ini?" sergahnya.

Seharusnya, kata Khairul, perawat dan rumah sakit mencerminkan pelayanan terhadap masyarakat. Namun, dengan adanya insiden yang memalukan tersebut, masyarakat akan berpikir ulang lagi.

"Kejadian ini tidak bisa dibiarkan. Pemkab melalui inspektorat harus turun tangan. Yang menjadi korban adalah anak didik yang perlu bimbingan, bukan sebagai objek pemuas nafsu," kecamnya.

Seperti diberitakan kemarin, sedikitnya sembilan mahasiswi Akper menjadi korban pelecehan seksual Khairul Umam. Perbuatan bejat itu dilakukan saat korban berkonsultasi terkait laporan magangnya.

Modus pelecehan sangat meresahkan mahasiswi magang. Sebab, tidak hanya meraba, payudara korban juga diremas. Selain itu, kening, pipi, dan bibir para korban tidak luput dari serobotan pelaku. Bahkan, selangkangan dan -maaf-vagina korban juga dijamahnya. Akibat perbuatan pelaku, ratusan mahasiswa Akper mendatangi RS mencari korban (20/4).




http://jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=154396

Berita Mesum Lainnya



Tidak ada komentar:

Posting Komentar